▴Iklan Atas▴ Idul Fitri 2023, Wakamad Humas MAN 2 Polman, Jadi Khotib di Masjid Babul Jannah Polewali

Gambar : Pussy Riot.
Humas Man2 Polman,- Wakli Kepala Madrasah Bidang Humas MAN 2 Polewali Mandar, Ahmad Jafar, mengajak ratusan umat Islam di Polewali dan sekitarnya yang memadati Masjid Babul Jannah untuk melestarikan kebiasaan istimewa selama Ramadan.
Pada setiap langkah kehidupan yang kita pilih dan tempuh, disetiap helaan nafas yang kita hirup dan hembuskan, marilah selalu berserah diri kepada Allah SWT.
Demikian disampaikan Ahmad Jafar saat mengawali khutbah Idul Fitrinya, Sabtu (22/4/2023) di Masjid Babul Jannah Polewali.
Dikatakannya, ekspresi kebahagiaan terpancar hampir disetiap wajah kaum muslimin, semua bergembira dan bersukacita setelah tuntas menunaikan ibadah shiyam dan qiyam Ramadan dengan sebaik-baiknya.
Namun lanjut Ahmad, tidak semua kita bergembira menyambut hari kemenangan itu. Ada diantara saudara kita yang menyambut hari raya ini dengan penuh kesedihan dan kesederhanaan.
"Ada saudara kita yang keluarganya berpulang menjelang Idul Fitri, ada yang bekerja keras hingga hari ini untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, dan bahkan ada yang tidak tahu harus menyandarkan diri dan menyampaikan keluh kesahnya karena kesendirian dan yatim piatu dan juga mungkin ada saudara kita yang jatuh sakit," ungkap Ahmad dengan nada rendah.
Alangkah lebih baiknya di hari yang fitri ini kita sisihkan kebahagiaan kita kepada mereka, hingga di hari yang penuh kebahagiaan ini kita tetap bisa berbagi.
Ahmad melanjutkan, Shalat Id yang baru saja kita lakukan merupakan simbolisasi dari kesuksesan kita menghidupkan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, pelajaran berharga dari Idul Fitri yang kita rayakan hari ini merupakan akumulasi dari dari pelajaran-pelajaran ibadah puasa, shalat, dan zakat kita di bulan Ramadhan. Selama 720 jam, Ramadhan sebagai suatu madrasah ruhaniah,spiritual training, telah menggembleng kita untuk memahami prinsip kesuksesan hidup yang hakiki dan cara meraih kesuksesan itu.
"Bulan Ramadan yang baru saja kita tinggalkan memberikan pelajaran, tempaan baik yang harus kita rawat dan kita biasakan pada setiap waktu dan masa kehidupan kita ini, diantaranya adalah, pertama, kesadaran diri untuk selalu memohon ampun kepada Allah serta memohon maaf kepada Allah dan manusia, atau biasa disebut dengan fase transendensi, " katanya.
Kemudian yang kedua fase distansi, distansi yaitu kemampuan menjaga jarak dari setiap godaan dan kesenangan duniawi yang menipu. Distansi tidak bermakna menolak dunia atau meninggalkannya, tetapi mengelola dunia dan menjadikannya sebagai sarana untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Selama Ramadan kita selalu berzikir, selalu salat berjamaah, bersedekah, berinfak, membantu dan peduli sesama.
"Sekiranya orang yang berakal mau berpikir sejenak, pasti dia akan mengetahui kadar dan kehinaannya serta tipudayanya. Dunia itu terlihat seperti fatamorgana. Orang yang kehausan mengira itu adalah air, padahal apabila dia mendekatinya, dia tidak akan memperoleh apa-apa. Dunia juga dihiasi dengan berbagai macam kemegahan dan sesuatu yang menggiurkan. Akhir dunia ini adalah ketiadaan dan kebinasaan. Keindahannya adalah petaka dan penyesalan," kata Ahmad.
Selanjutnya yang ketiga yaitu fase kapitalisasi. Kapitalisasi dalam arti kemampuan menjadikan semua aset yang dimiliki sebagai modal untuk kemuliaan di akhirat.
Acap kali kita tidak adil dalam memberi perhatian terhadap urusan akhirat, dunia terlampau kita utamakan hingga butakan mata dan hati kita. Seringkali seluruh perhatian dan potensi dikerahkan untuk urusan dunia, sedangkan akhirat seperlunya saja. Padahal dunia dan akhirat sangat tidak sebanding. Allah mengingatkan kita “Walal akhiratu khairun laka minal ula; dan akhirat lebih baik bagimu dari kehidupan dunia”. Bahkan akhirat tidak hanya lebih baik dari dunia, ia juga lebih kekal. “Wal akhiratu khairun Wa abqa”, lanjutnya.
Terakhir yang ke empat kata Ahmad adalah fase Determinasi dalam arti memiliki semangat dan kesungguhan dalam mengarungi kehidupan. Determinasi tak lain adalah perjuangan itu sendiri. Dalam Islam, perjuangan itu bersifat multidimensional, meliputi perjuangan fisikal (jihad), intelektual (ijtihad), dan spiritual (mujahadah). Allah SWT akan membukakan pintu-pintu kemenangan bagiorang yang berjuang dan memiliki determinasi dalam perjuangan. Allah berfirman
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik
Terakhir, Ahmad menyampaikan kepada seluruh jamaah untuk memupuk sikap menghargai perbedaan dan keberagaman. Di bulan Ramadan kita dididik untuk menghargai semua perbedaan dan keberagaman, berbeda dalam melaksanakan rakaat tarwih, berbeda juga dalam menentukan awal Syawal.
" semoga kita yang merayakan hari kemenangan ini termasuk pemenang sejati. Ramadhan mengantarkan pada derajat taqwa dan taqwa menjadikan kita lebih dekat pada sang pencipta. Menghadirkan transendensi keimanan dalam melakukan distansi dari setiap tipuan dunia dan memaksimalkan kapitalisasi menuju akhirat, serta menumbuhkan determinasi yang tinggi dalam menapaki 11 bulan yang akan dating.," tutup Ahmad. (aas)




